Sehat Ala Hembing
Sepertinya tidak banyak yang tahu, Prof. Hembing telah berpulang ke Rahmatullah pekan lalu. Pakar pengobatan herbal yang penampilan lahiriahnya jauh lebih belia ketimbang usianya yang sebenarnya itu pantas dicatat sebagai legenda, sebagai icon, dunia media berbasis produk alami di Tanah Air. Sayangnya, penghargaan yang kita berikan kepada Prof. Hembing tampaknya tidak sebesar yang dianugerahkan oleh negara semacam China dan Korea Selatan. Di sana, Prof. Hembing justru lebih eksis sebagai pengurus organisasi-organisasi yang berkhidmat pada edukasi masyarakat untuk menjadikan obat-obatan herbal sebagai andalan dalam memelihara kesehatan.
Prof. Hembing adalah satu dari sangat sedikit orang yang lebih dari sekedar berprofesi, tetapi juga mendedikasikan hidupnya untuk budi daya dan pemanfaatan herbal sebagai bahan baku medis. Padahal, untuk mengimbangi jumlah pemakaian obat-obatan herbal yang kian tinggi, kita membutuhkan hembing-hembing lebih banyak lagi. Dalam khazanah keislaman, yang Prof. Hembing praktikkan sebangun dengan thibbun nabawi, yakni pengobatan penyakit sesuai resep nabi yang seluruh bahannya bersumber dari alam khususnya tanaman.
Peran besar Prof. Hembing sebenarnya selaras dengan kampanye Organisasi Kesehatan Dunia – WHO. Organisasi ini mendukung pengintegrasian pengobatan tradisional ke dalam sistem kesehatan nasional negara-negara anggotanya. Pengintegrasian itu dilakukan dengan merumuskan berbagai regulasi yang relevan, meningkatkan kualitas dan keamanan produk-produk herbal, memosisikan pengobatan tradisional sebagai bagian dari pelayanan kesehatan utama, serta meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang obat-obatan herbal.
Ikatan Dokter Indonesia sendiri, kita pandang, masih punya banyak pekerjaan rumah dalam rangka merealisasikan kampanye WHO tadi. Di sejumlah daerah memang telah dibentuk Perhimpunan Dokter Herbal Medik. IDI juga menggencarkan tes laboratorium dan uji klinis agar produk herbal bisa diterima dunia kedokteran. Tapi di lapangan, tampaknya masih terlalu sedikit dokter yang sungguh-sungguh dan kontinu memasukkan obat-obatan herbal ke dalam resep yang mereka tulis untuk pasien. Masyarakat juga masih perlu didorong agar giat menanam tanaman obat keluarga atau TOGA, sebagai bagian dari gaya hidup sehat mandiri.
Nah, Prof. Hembing bukan sebatas menulis resep. Prof. Hembing aktif mendidik masyarakat agar membangun TOGA sebagai kebiasaan baru. Dengan kebiasaan baru itu, harapannya, masyarakat tidak lagi terlalu terpaku pada bagaimana menyembuhkan penyakit, tetapi lebih pada bagaimana memelihara kesehatan. Jadi sungguh tak keliru, apabila kita menyebut tempat praktik Prof. Hembing, yaitu The Hembing Center, bukan sebagai rumah sakit, melainkan sebagai rumah sehat.
Tidak sebatas di hilir, Prof. Hembing juga tekun di hulu. Prof. Hembing memiliki perkebunan sendiri yang menyediakan bahan-bahan obat yang diraciknya. Sehingga tidak hanya kualitas yang terjaga, obat-obatan herbal ramuan Prof. Hembing juga lebih terjangkau dari sisi harga.
Kini Prof. Hembing sudah tiada. Lelaki yang hanya tidur 2-3 jam perhari dan sangat rajin makan ikan itu dikabarkan wafat ketika tidur. Tanpa didahului deraan penyakit. Kita memang tidak berkecimpung di dunia yang sama dengan Prof. Hembing, dunia medis herbal. Tetapi kita semua semestinya bisa meniru keteladanannya: bahwa untuk hidup sehat sesungguhnya kita bisa mengandalkan diri sendiri. Itulah sehat ala Hembing.
Penulis: Lingga Wastu
Penulis: Lingga Wastu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar